ASN BAPELITBANGDA Kabupaten Katingan ikuti pelatihan desain grafis untuk layout buletin dan majalah di BIT LIPI

Anton Surahmat 30 Nov 2018 News 342 Kali

Bandung –  Komunikasi dapat dilakukan dengan media apa saja, salah satunya dengan media yang dihasilkan melalui desain grafis. Baik berupa desain grafis cetak maupun non cetak atau web. Meskipun memiliki kesamaan namun ada beberapa perbedaan antara desain grafis cetak dan non cetak. Mulai dari alur kerja, format file hingga alur kerjanya. Salah satu yang mendasar di antara keduanya yaitu pada saat orang melihatnya. Apabila yang cetak dapat dipegang seperti majalah, buku, leaflet dll. Sedangkan yang non cetak hanya dapat dinikmati melalui layar baik di ponsel pintar maupun pc atau laptop.

Meskipun tidak dapat dirasakan secara langsung dengan indera peraba, desain non cetak dapat dimungkinkan untuk dilakukan penambahan baik dengan penambahan audio/video dan opsi interaktif lainnya. Selain itu desain non cetak juga dapat dirubah secara dinamis tanpa mengeluarkan banyak biaya. Berbeda dengan desain cetak, apabila ada kesalahan yang mengharuskan untuk dirubah maka proses dan biaya yang dikeluarkan akan banyak. Meskipun demikian, desain cetak masih banyak peminatnya. Terutama di instansi-instansi sebagai media informasi suatu program kegiatan. Seperti laporan kinerja, laporan kegiatan penelitian, atau media komunikasi internal.

Untuk menunjang SDMnya agar dapat membuat media informasi dalam bentuk cetak. Pada 26-29 November 2018 yang lalu pemerintah Kabupaten Katingan Provinsi Kalimantan Tengah mengirimkan empat SDM untuk mengikuti pelatihan desain grafis untuk layout desain dan buletin. Menurut salah satu peserta Frans Nilwan Apriadi, S.T. tujuan mengikuti pelatihan ini, agar di sdm yang ada di instansinya dapat membuat sendiri media informasi berupa majalah sebagai bahan laporan kegiatan penelitian yang dilakukan di Pemerintah Kabupaten Katingan.

Selama pelatihan empat hari tersebut, peserta diajar oleh salah satu sivitas BIT LIPI Andrian Wikayanto, S.Sn. Untuk proses belajarnya peserta dibimbing untuk mengerjakan secara langsung salah satu proyek yang akan dilakukan setelah pulang dari pelatihan tersebut. Hal ini dilakukan agar ketika peserta kembali lagi ke instansi asalnya dapat dilanjutkan kembali. Sehingga akan membantu alur proses kerja para peserta, pungkasnya.