SINOPSIS FILM "INOVASI TEKNOLOGI BRIKET DARI TEMPURUNG KELAPA"

Kamaludin 17 Sep 2021 Kolom Sivitas 604 Kali

Film dengan judul: “Inovasi Teknologi Briket dari Tempurung Kepala” merupakan hasil produksi UPT Balai Informasi Teknologi-LIPI pada tahun 2010, film ini berdurasi 16 menit dan 23 detik. Film ini bercerita tentang pemanfaatan teknologi tepat guna, serta posisi dan keindahan  Kota Pariaman.

Kota Pariaman diresmikan sebagai kota Otonom dengan diberlakukannya Undang-undang nomor 12 tahun 2002. Kota Pariaman merupakan kota dengan hamparan dataran rendah terletak di pantai barat Propinsi Sumatera Barat yang beriklim tropis basah yang sangat dipengaruhi oleh angina barat dan mimiliki bulan/musim kering yang sangat pendek. Musim kemarau dan musim hujan selalu berubah-ubah menurut waktu, sehingga memungkinkan tumbuhnya berbagai jenis tanaman.

Keberadaan Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti minyak tanah dan gas untuk kawasan pedesaan kadang-kadang sulit didapat dan harganya mahal. Kondisi lain adalah bahan bakar minyak yang ketersediaannya semakin lama semakin tidak mencukupi seiring dengan adanya kebijakan dari pemerintah pusat yang memicu munculnya sejumlah ide kreatif yang menghasilkan bahan bakar alternatif pengganti minyak tanah.

Untuk memasak, tentu saja diperlukan bahan bakar supaya dapat mematangkan bahan masakan dan bumbu-bumbu yang digunakan. Dahulu orang memasak menggunakan kayu, seiring dengan berkembangnya teknologi, sekarang orang memasak dengan menggunakan minyak tanah, gas, dan bahkan yang paling modern menggunakan kompor listrik.

Untuk menciptakan produk yang ramah lingkungan dan tidak terus menerus membebani bumi dengan sampah “sampah” yang dibuat manusia inilah yang menjadi tujuan utama dewasa ini. Maka sudah selayaknya dicari alternatif pengganti bahan bakar minyak seperti minyak tanah dan gas dengan sumber alternatif yang lain; untuk itu Sentra Inovasi Teknologi atau INOTEK, pada Fakukltas Pertanian Universitas Ekasakti, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan Pemerintah Kota Pariaman membuat sebuah produk briket yang terbuat dari tempurung kelapa sebagai alternative pengganti Bahan Bakar Minyak Kota Pariaman.

Ir. I Ketut Buduraga, M.Si. dalam testimoninya mengatakan:

“Jadi untuk kegiatan inovasi pembuatan teknologi briket dari tempurung kelapa yang berlokasi di Kota Pariaman yang melatar belakangi dari kegiatan IPTEKDA ini adalah karena kita melihat sekarang, kebijakan pemerintah adanya konservasi minyak tanah yang cukup mahal maka dengan adanya kebijakan seperti ini kondisi masyarakat di lapangan sangat sulit untuk mendapatkan minyak tanah karena harganya mahal, kemudian yang kedua karena situasi perekonomian masyarakat, hususnya di Kota Pariaman terlebih dengan adanya paska gempa sekarang ini keberadaan energi alternatif pengganti minyak tanah itu sangat diperlukan, disini diperlukan semacam pembuatan briket dari tempurung kelapa”.

Pohon kelapa merupakan pohon kehidupan yang artinya mulai dari akar, batang, daun, buah semuanya bisa dimanfaatkan, seperti sabut kelapa, tempurung kelapa, air kelapa, ampas santan kelapa dan limbah lainnya.

Hal lain yang menarik yaitu bagaimana usaha kedepan agar nilai tambah yang diberikan dari hasil samping kelapa bisa bertambah, artinya bagaimana caranya sentra industri kecil tidak hanya menjual bahan baku setengah jadi, tetapi menjualnya dengan menjadi sebuah produk. Kelapa dapat diolah menjadi nata de coco atau minuman isotonic air kelapa, santan kelapa, minyak kelapa murni, pakan ternak, arang tempurung, arang aktif, dan lain-lain.

Potensi kelapa di Kota Pariaman cukup besar dengan luas areal 2,863 Hektar. Dengan jumlah pohon kelapa per hektar serratus dua puluh lima batang maka setiap tahun dapat memanen sekitar seratus buah kelapa. Maka dengan luas areal tersebut dapat kita hitung panen buah kelapa pertahun dapat mencapai 357.787.500 buah kelapa.

Walaupun memiliki angka panen yang cukup besar, namun nilai yang diterima petani masih sangat kecil karena para petani terbatas hanya menjual buah kelapa, sementara limbah dari buah kelapa tidak mendapat perhatian.

Adapun proses pembuatan briket sebagai berikut:

  1. Penyiapan bahan baku tempurung yang sebaiknya berasal dari kelapa yang tua atau cukup umur untuk dipanen.
  2. Pemanenan buah kelapa
  3. Pemisahan kulit kelapa dengan buah kelapa
  4. Pembelahan buah kelapa dan air kelapa ditampung atau dibuah
  5. Pemisahan tempurung kelapa dengan isi daging kelapa
  6. Tempurung kelapa selanjutnya dikumpulkan ditempat pembakaran seperti lubang dalam tanah atau ditempat drum
  7. Dilakukan proses pembakaran tempurung kelapa dalam lubang tanah atau drum selama kurang lebih 24 jam
  8. Proses pembongkaran menghasilakn arang tempurung kelapa
  9. Proses pengangkutan arang tempurung kelapa ke tempat pembuatan briket
  10. Proses penggilingan arang tempurung kelapa kasar menjadi tepung kasar kapasitas 600 kg/jam
  11. Penggilingan tepung arang tempurung kelapa kasar menjadi halus kapasitas 600 kg/jam
  12. Pencampuran tepung tempurung halus dengan perekat berupa tepung kanji sektar 5% ditambah air secukupnya
  13. Bahan adonan tepung tempurung halus dicampur dalam mixer kapasitas 20 kg/menit
  14. Proses pencetakan adonan menjadi briket tempurung kelapa kapasitas 320 butir/cetak/2 menit dengan kekuatan daya  tekan menggunakan hidrolik 120 ton/tekan
  15. Proses pengeringan dalam oven beton kapasitas kurang lebih 900 kg/30 menit
  16. Proses pendinginan briket tempurung kelapa setelah di oven kurang lebih sepuluh menit
  17. Proses pengemasan tempurung kelapa dalam kemasan 1 kg, 5 kg dan 10 kg.
  18. Proses transportasi ketempat pemasaran seperti rumah maka, pembuat keripik, dll.

 

Pembuatan blango dari tanah liat dengan tahapan sebagai berikut:

  1. Pembuatan mall alat cetak dan dilapisi oli agar tidak lengket
  2. Persiapan bahan baku tanah liat
  3. Pencampuran tanah liat dengan komponen-komponen yang lain agar bagus
  4. Proses pencetakan blango dalam mall
  5. Finishing blango agar kelihatan halus
  6. Blango dibiarkan dalam kering angin sekitar tujuh hari
  7. Finishing kembali seperti menambal kembali pori-pori yang retak
  8. Setelah kering pemisahan blango dengan alat cetak secara pelan-pelan
  9. Blango diukur dan disimpan dan siap digunakan untuk alas kompor.

Pembuatan kompor briket atau alat pembakar disesuaikan dengan ukuran blango atau alas kompor. Perakitan dengan alat blower atau hembusan angina. 

Kompor briket atau alat pembakar siap digunakan. Khusus bahan baku peralatan alat pembakar ikan atau sate menggunakan baku stainless stell dan alas bara menggunakan tanah liat.

Proses menghidupkan dan mematikan kompor briket:

  1. Siapkan dulu briket tempurung kelapa yang sudah dikemas, blower
  2. Buka kemasan briket
  3. Masukkan briket ke dalam kompor briket secara bertahap
  4. Setelah setengah kilogram dimasukkan dua sampai tiga butir briket yang sudah dicelupkan dalam kompor briket dan paraffin sebanyak dua sampai tiga butir
  5. Nyalakan pancingan butir briket dan dimasukkan kembali briket kedalam kompor secara perlah-lahan diperkirakan beratnya satu kilogram atau sekitar tiga puluh butir dan dibiarkan menyala
  6. Tunggu sekitar dua menit, baru diberikan hembusan angina lewat blower
  7. Ketika sudah menyala penuh baru ditempatkan alat memasak
  8. Agar besar api memasak bisa stabil maka setiap jam sebaiknya tambahkan sepuluh butir briket
  9. Ketika setelah selesai memasak atau memanaskan masakan, bisa ditutup mati atau disiram dengan air secukupnya melalui percikan-percikan sampai api kompor benar-benar mati
  10. Briket sisa pembakaran bisa digunakan kembali
  11. Setiap hari setelah selesai memasak, kotoran abu briket dibersihka dan bisa digunakan untuk pupuk tanaman.

Briket boleh dikatakan sebagai alternative dapur hemat tanpa minyak tanah. Harga briket lebih murah disbanding minyak tanah dengan waktu pemakaian yang lebih lama dan ramah lingkungan karena tidak menimbulkan asap hitam seperti yang ditimbulkan apabila memasak dengan minyak tanah, sehingga baik untuk kesehatan. Produksi dapat dilakukan oleh masyarakat desa setempat dengan teknologi sederhana dan bahan baku yang mudah diperoleh.

 

Prospek kedepan dirasakan bagus sekali, kalau masyarakat memakai briket dari tempurung kelapa, karena tempurung kelapa itu dianggap sebagai limbah jadi digunakan untuk membuat briket dari tempurung kelapa bisa mengganti minyak tanah.

Berawal dari ide kreatif dengan menawarkan energy alternative, teknologi briket dari tempurung kelapa pun berhasil menciptakan lapangan kerja dan peluang kerja bagi masyarakat sekitar serta berhasil meraih juara satu tingkat Propinsi Sumatera Barat dalam lomba innovator tingkat tingkat Propinsi Sumaera Barat yang diadakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Badan Perenanaan Pembangunan Propinsi Sumatera Barat.

Pelaku UKM memberikan testimoni lanjutan sebagai berikut:

Harapan saya kepada Pemerintah Kota Pariaman harus membuat satu kebijakan supaya masyarakat Pariaman tidak menggunakan minyak tanah lagi. Kenapa minyak tanah ? Yang pertama resikonya besar, yang kedua mencarinya susah. Nah jadi kalau dipakai briket dari tempurung kelapa itu bandingan 1-6. Kalau rakyat memakai 1 liter itu

Keunggulan kompor briket atau alat bakar adalah tidak mempunyai resiko meledak, daya tahan api briket cukup lama lima sampai enam jam untuk satu kilogram peggunaan briket, bahan baku yang tersedia dan bersifat sustainable, bersifat ramah lingkungan karena tidak merusak dan tidak menimbulka polusi serta aman buat kesehatan.

Penggunaan kompor briket ini dapat menghemat biaya sampai hapir 50% proses memasak yang lebih cepat dan tidak menimbulkan dampak polusi atau berasap dan meledak serta peralaatan peralatan memasak tidak kotor dan kompor briket yang menggunakan tanah atau blango sebagai alas tempat bara api sangat tahan lama, malah semakin kuat dan tidak mudah jebol. Membuka lapangan kerja bagi masyarakat petani kelapa sehingga nilai jual produk buah kelapa akan semakin meningkat.