SINOPSIS FILM "BUDIDAYA KERANG MUTIARA"

Kamaludin 17 Sep 2021 Kolom Sivitas 603 Kali

Film dengan judul: “Penerapan teknologi & budidaya kerrang Mutiara secara komersial”, merupakan film yang diproduksi oleh UPT Balai Informasi Teknologi LIPI, film ini berdurasi 24 menit lebih 42 detik, diproduksi tahun 2007. Film ini tidak saja mengetengahkan tentang penerapan tekknologi di daerah, tetapi juga menayangkan potensi dan keindahan Kabupaten Lombak Barat.

Kawasan Nusa Tenggara Barat tak hanya memiliki pemandangan yang indah tetapi juga memiliki kekayaan yang cukup beragam yang diolah dan dikelola untuk mengubah tingkat perekonomian masyarakat dalam meningkat pendapatan asli daerah.

Keindahan pantai di Kabupaten Lombok Barat tidak kalah dengan pantai Sanur dan Kuta di Bali dan tidak hanya mengandalkan keindahan pantai sebagai obyek tujuan wisata tetapi keindahan alam pegunungan, kehasan budaya yang menjadi asset pariwisata yang memberikan lebih dari 50 persen pendapatan asli daerah disokong oleh pariwisata.

Garis pantai yang membentang sepanjang lebih dari 1800 kilometer membentang dari ujung utara sampai ujung selatan pulau Lombok bagian barat yang dibatasi perairan laut Flores, Selat Lombok, dan Samudera Hindia yang merupakan daerah potensial penangkapan ikan yang memberi nilai tambah potensi bahari Lombok Barat.

Perairan pantai yang dangkal dan landau karena merupakan perairan selat, melahirkan kekayaan alam antara lain budidaya kerang, benda bulat atau lonjong berwarna putih yang berasal dari kerang mutiara dibudidayakan pada areal empat ribu lima ratus hektar dengan wilayah pengembangan di Kecamatan Sekotong, Tanjung Gangga dan Kecamatan Pemenang.

Di Teluk Kode Desa Melaka Kecamatan Pemenang inilah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mendirikan UPT Loka Pengembangan Bio Industri Laut sebagai salah satu unit pelaksana teknis budidaya kerang mutiara dari jenis Pinctada Maxima. Upaya untuk meningkatkan kegiatan budidaya kerrang dari skala percobaan ke tingkat komersial terus dilakukan menerobos kendala yang dihadapi terutama dari segi permodalan dan teknologi.

Usaha itu berhasil melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi di daerah/IPTEKDA LIPI dengan kucuran bantuan modal untuk peningkatan teknologi dan manajemen secara professional yang dilaksanakan oleh usaha kecil menengah koperasi pegawai republik Indonesia KJRI Bio Industri Laut sebuah unit usaha budidaya kerang mutiara.

UPT Loka Pengembangan Bio Industri Laut Mataram sejak tahun 1997 melakukan budidaya kerrang Mutiara dari jenis Pinctada maxima yaitu melalui pembenihan, pembesaran dengan penambahan sarana prasarana seperti pocket kerang, kolektor, keranjang tento, kantong warning, tali gantungan, bola-bola penampungan, dan perahu motor.

Budidaya kerang mutiara oleh UPT Loka Pengembangan Bio Industri Laut LIPI di Teluk Kode, Desa Melaka, Kecamatan Pemenang melaksanakan pembenihan untuk menghasilkan benih dengan cara mengawinkan induk-induk kerang jantan dan betina  alami, kemudian menetaskan dan memelihara larva yang dihasilkan sampai mencapai benih ukuran 2 milimeter yang telah melekat pada lembaran-lembaran kolektor atau substrat yang telah ditempeli larva kerang dengan dengan kapasitas 70 lembar, 184 lembar dan 256 lembar.

Kepadatan larva pada kolektor diperkirakan berkisar antara 25-50 ekor sedangkan rendahnya jumlah larva pada kolektor disebabkan karena kematian akibat mutu telur yang tidak seluruhnya baik. Setiap run pembenihan memakan waktu kurang lebih 45 hari menghasilkan benih menempel sebanyak 200-500 kolektor masing-masing berisi 100-200 ekor.

Tahap pertama pembenihan adalah melakukan pengamatan gonad atau indung telur dari kerang-kerang mutiara yang secara periodic akan memperoleh calon induk matang telur. Gonad atau indung telur ini senantiasa mendapatkan pengamatan, hasilnya adakalanya tidak satupun kerang betina dengan gonad yang berkembang, sementara beberapa induk jantan baru, menunjukkan perkembangan awal.

Pemijahan kedua melalui program IPTEKDA LIPI menggunakan induk kerang dari Pulau Sumbawa, dari 70 ekor induk kerrang yang dibeli ketika itu, 17 diantaranya memiliki gonad berkembang atau matang, selanjutnya dipersiapkan, 2 ekor betina atau 3 ekor jantan yang memijah sedangkan larva yang dihasilkan biasanya sudah melekat pada lembara kolektor.

Secara periodik, maka dilakukan pengecekan Kembali terhadap gonad-gonad yang matang, hasilnya larva dipelihara di laboratorium diperkirakan awal atau pertengahan bulan Desember kerang-kerang muda ini sudah mulai dipindahkan ke lokasi pemeliharaan di laut. Upaya pematangan gonad secara buatan, yaitu memberikan pakan berupa pitoplankton atau tumbuhan bersel tunggal yang hidup melayang dalam klam air. Ketika melaksanakan pembenihan, maka kultur pitoplankton yang diperlukan berkisar antara 3-5 jenis dengan volume 10-20 liter per jenis.

Untuk pematangan gonad induk, jumlah dan jenis pakan yang diperlukan berkisar antara 5-10 jenis dengan volume antara 500-1000 liter, prasyarat ini perlu dipenuhi agar induk yang akan dimatangkan yaitu sekitar antara 10-30 ekor memperoleh cukup asupan makanan.

Memelihara anakan kerang dalam wadah bak terbuka yang terbuat dari fiberglass dan bak beton di laboratorium di darat dengan memberikan pakan beberapa jenis pitoplankto, dengan cara ini maka kadar gram media pemeliharaan bisa selalu dalam pengawasan sementara pemberian makanan dengan bahan-bahan kimia diatur sedemikian rupa sehingga kadar gramnya mendekati kadar garam air laut optimal.

Melalui antisipasi seperti itu, tingkat kelangsungan hidup anak kerrang yang relative masih lemah dapat ditingkatkan kapasitasnya dalam 20 jalur yang terbagi dalam dua blok dapat dioptimalkan. Proses pembesaran kerang dimulai dengan memindahkan benih kerrang bersama kolektor atau substrat penempelannya ke laut dan memeliharanya sampai mencapai ukuran dioperasi atau mulai mengisi inti mutiara.

Benih pada pocket dengan pelindung waring dipelihara pada kedalaman 7 meter dengan cara digantungkan pada tali yang memanjang berpelampung sepanjang 100 meter dengan jarak satu meter. Selama masa pemeliharaan dilakukan pembersihan kulit, pocket, waring pembungkus dan tali penggantungnya secara periodik. Makin besar ukuran pada pemeliharaan begitu pula dengan kepadatan kerrang dikurangi secara bertahap sehingga akhri masa pembesaran jumlah kerang per pocketnya hanya 8 ekor. Produksi butiran Mutiara dengan cara mengimplantasikan atau mencangkokan potongan mantel donor bersama satu butir Mutiara inti ke dalam tubuh kerrang yang berukuran cukup besar dan sehat. Dalam pelaksanannya, kerang donor dimatikan untuk diambil mantelnya yang ukurannya tergantung kerang donor, dari mantel seekor kerrang donor dibuat antara 10-20 potongan mantel.

Ukuran kerang yang akan diimplantasi potongan mantel dan inti dipilih yang cukup besar untuk dapat menerima implant dengan diameter 4 milimeter karena harus diletakkan di gonad kerang. Setelah diimplantasi dengan potongan mantel persegi empat berukuran 4-16 milimeter persegi dan sebutir inti berdiameter 4 mm, kerang-kerang mengalami masa tento selama kurang lebih satu setengah bulan. Masa-masa tento inilah perlakukan lebih spesifik apalagi seminggu menjelang akhir masa tento posisi kerang diubah menjadi miring agar kerang yang telah terbungkus mantel berada dipinggir dinding tubuh sehingga mudah untuk melakukan pemantauan.

Pada ahir masa tento, kerang baru dapat dikeluarkan dari dalam air, dicek kemudian dibersihkan kulitnya dan hasilnya cukup baik. Sebagai tenaga pengisian inti terbaik di Indonesia pekerjaan tersebut cukup berhasil meski masih dibawah tenaga ahli Jepang yang mampu mencapai angka 90 persen.

Dari segi produksi dan pemasaran butiran mutiara yang dibudidayakan Koperasi Pegawai Republik Indonesia Bio Industri Laut Mataram, berhasil cukup baik dengan penerapan teknologi dan manajemen budidaya kerang secara komersial, dana bergulir dari IPTEKDA LIPI dapat diserap untuk terus mengembangkan budidaya kerang mutiara dengan kualitas yang diinginkan pasar. Pemasaran benda laut dari Lombok Barat itu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pendapatan daerah dengan tujuan ekspor adalah Jepang sedangkan di dalam negeri sudah diolah menjadi perhiasan mutiara dengan harga yang cukup mahal. Seorang pengusaha mutiara binaan LIPI mengatakan membudidayakan mutiara memberi peluang bagi pendapatan usahanya.

Kabupaten Lombok Barat memiliki potensi kekayaan alam yang cukup besar, terutama di sektor kelautan dan perikanan dan budidaya kerang mutiara. UPT Loka Pengembangan Bio Industri Laut Puslit Oseanografi LIPI membudidayakan kerang secara komersial berhasil dengan membina para usaha kecil menengah yang bergerak sebagai pengusaha Mutiara melalui program penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi di daerah.