Alam Itu Seperti Buku

  • PDFPrintE-mail

Indonesia dianugerahi Tuhan dengan kekayaan alam yang luar biasa. Tapi, kita juga dianugerahi Tuhan kerak bunni yang tidak stabil. Tak heran, bila di Indonesia banyak terjadi gempa bumi, tanah longsor dan letusan gunung api, walaupun badai dan topan tidak sebanyak di tempat lain. Hal ini patut disyukuri dengan cara rnenyesuaikan dengan keinginan alam.

Caranya, kita harus mengetahui keinginan alam. Dengan kita bersahabat dengan alam, berarti kita menghargai alam. Alam itu tidak bisa dilawan, karena ada yang lebih berkuasa dari pada kita. Kalau dilawan, bisa celaka. Jadi kita ikuti saja maunya apa.


Upaya bersahabat dengan alam ini, juga harus dimiliki oleh seorang geolog. Seorang geolog harus bisa berkomunikasi dengan alam, bisa membaca tanda-tanda alam. Sehingga, kita bisa mengetahui keinginannya.

Dengan kekayaan alam yang luar biasa ini, Indonesia membutuhkan banyak ahli geologi. Hal ini tidak hanya untuk mengelola kekayaan alam seperti tambangnya saja. Namun, juga untuk memahami kondisi alam, terkait kesiapan dalam menghadapi bencana alam seperti gunung meletus dan lain sebagainya.

Awalnya saya ingin banyak melihat keindahan nusantara. Alhamdulillah keinginan tersebut teriaksana dalam rangka penelitian. Semakin lama, saya fokus meneliti tentang gunung api, karena ini berkaitan dengan kehidupan secara langsung, lebih bersifat humanity, untuk menolong masyarakat tentang gunung api.

Karena kita tidak bisa menghindari apa yang dianugerahkan Tuhan tersebut, bila bencana itu datang, kita harus siap. Oleh karena itu, upaya sosialisasi tentang bencana alam harus selalu dilakukan. Penyuluhan itu harus kontinyu. Karena bila kejadiannya sudah lama, generasinya sudah berbeda, dan orang juga bisa lupa. Selain penyuluhan melalui buku-buku tersebut, saya juga buat tulisan-tulisan di media massa.

Bagi saya, upaya membangun kesadaran tentang bencana ini lebih abik dilakukan sejak masa kanak-kanak. Ini bisa dimasukkan dalam mata pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah dasar, khususnya tentang bencana alam yang dekat dengan wilayahnya, tanpa rnelupakan bencana regional. Selanjutnya, hal ini, dimatangkan di tingkat SMP dan SMA tentang asal usul alam semesta dan sebagainya.

Untuk anak-anak yang tinggal di dekat gunung berapi, ajarkan mereka cara-cara menghadapi bencana bila gunung meletus.' Untuk anak-anak yang tinggal di kota yang dekat dengan gunung berapi, ajarkan cara menghadapi debu vulkaniknya. Jadi, materinya disesuaikan dengan tingkatan areanya. Apakah akan terkena dampak sekunder atau primer. Sekarang yang kurang mendapat sosialisasi itu di tingkat SD.


Banyaknya bencana alam di Indonesia akhir-akhir ini, diakibatkan oleh perilaku manusia. Seperti banjir, dan ada juga yang bersifat alami, seperti gunung meletus. Sayangnya orang Indonesia kurang siap dalam menghadapi bencana. Mereka tidak biasa rnenyisihkan uang untuk bersiap-siap bila terjadi bencana. Asuransi pun sifatnya terbatas. Karena di sini, selain dananya terbatas, urusan perut lebih diutamakan. Padahal kalau sudah terjadi, tidak bisa apa-apa.

Oleh karena itu, sarana prasarana tanggap bencana harus selalu siap. Tidak hanya itu, masyarakat pun harus diberi pemahaman apa yang harus dilakukan bila itu terjadi. Alam itu seperti buku yang harus kita baca, dimana kita harus hidup harmonis bersamanya.

Search by Google!

Profile Video

Announcements

Zona Integritas

IPTEKDA-LIPI XV

SURVEY IKM

Food & Health

Package Information of Food & Health

IPTEKDA-LIPI XV

IPTEKDA-LIPI XV

Bangli Heritage

Bangli Heritage: Multimedia knowledge Center

News Archive

Statistics

Share Us

BIT on Youtube

BIT Facebook Page

BIT's Group on FB