Dasar Suara dalam Film

  • PDFPrintE-mail

Bandung – Suara di dalam film, bersama dengan gambar membentuk suatu pengertian atas kesatuan emosi dan kesatuan realitas. Keberadaan suara memungkinkan penonton untuk merasakan keadaan dalam cerita sesuai dengan keadaan aslinya di dunia nyata. “Misal kita melihat sebuah film berseting pegunungan, akan ada suara yang membantu menjelaskan visualnya itu seperti suara angin, suara dedaunan yang tertiup atau kicau burung,” tutur Sound Director Wahyu Tri Purnomo, narasumber Pelatihan Dasar Pengenalan Suara dalam Film (Jumat/21/7)


Wahyu menambahkan, suara juga berperan penting dalam menciptakan beragam bunyi – bunyian yang sejatinya tidak eksis dalam dunia nyata. Efek suara tersebut dapat menonjolkan informasi yang hendak disampaikan. Serta memberikan kesan realita dalam ruang cerita. Ia mencontohkan suara denting dan deru pedang dalam serial film terkemuka Star Wars. “Itu kan pedang lightsaber sebenarnya tidak ada,” terangnya.

Pelatihan yang berlangsung di Ruang Rapat Lt. 2 Gd. 40 UPT BIT ini bertambah semarak dengan tanya jawab yang berlangsung cair antara peserta dengan narasumber. Salah satunya tentang kebutuhan perekaman suara ketika berada di lokasi pengambilan gambar. Apa sumber suara utama yang harus menjadi patokan ketika syuting berlangsung? Wahyu menjelaskan bahwa dalam proses produksi apabila ada dialog. Maka dialog adalah hal utama. Sehingga suara ketika dialog berlangsung mesti jernih. Karenanya peralatan yang tepat dengan teknik penggunaan yang benar amat menentukan ketika proses perekaman berlangsung. “Saya pribadi lebih suka menggunakan Boom Mircophone sebagi source utama dibanding clip on,” ujar Editor yang akrab dipanggil Ipong ini.


Adri Bintara salah satu editor dari BIT mengaku senang dengan penyelenggaraan Pelatihan Dasar Pengenalan Suara dalam Film ini, dirinya mendapatkan banyak jawaban terkait proses perekaman suara yang benar dan baik ketika syuting di lapangan. “Selama ini saya kira clip on adalah sumber utama suara nyatanya boom semestinya menjadi opsi utama,” ungkapnya.

Selain memberikan penjelasan terkait dasar – dasar suara dalam film. Ipong juga sempat mengapresiasi film – film produksi UPT BIT LIPI di Ruang Sinema 40. Beberapa film produksi BIT seperti Ekspedisi Teluk Wondama dan Karangsambung: Dasar Samudera yang Tersingkap menjadi dua diantara beberapa karya sineas BIT yang mendapatkan perhatian. Rencananya, dalam waktu dekat sinematografer UPT BIT akan turut serta untuk mendokumentasikan Ekspedisi Widya Nusantara LIPI di Pulau Simeulue.


Search by Google!

Profile Video

Announcements

Zona Integritas

IPTEKDA-LIPI XV

SURVEY IKM

Food & Health

Package Information of Food & Health

IPTEKDA-LIPI XV

IPTEKDA-LIPI XV

Bangli Heritage

Bangli Heritage: Multimedia knowledge Center

News Archive

Statistics

Share Us

BIT on Youtube

BIT Facebook Page

BIT's Group on FB