Lego Ergo Socio : Bagian Terakhir

  • PDFPrintE-mail

Supaya kondisi bangsa kita tidak terus berada dalam kubangan keterbelakangan maka, sekali lagi, membaca harus menjadi budaya di masyarakat. Kita semua sangat merindukan, dan akan berjuang ke arah itu, kondisi budaya bangsa seperti digambarkan dalam puisi karya Taufiq Ismail yang berujudul “Kupu-Kupu Di Dalam Buku” berikut:

Ketika duduk di stasiun bis, di gerbong kereta api,

di ruang tunggu praktek dokter anak, di balai desa,

kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku,

dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,

di perpustakaan yang mengandung ratusan ribu buku

dan cahaya lampunya terang-benderang,

kulihat anak-anak muda  dan anak-anak tua
sibuk membaca dan menuliskan catatan,

dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika bertandang di sebuah toko,

warna-warni produk yang dipajang terbentang,

orang-orang memborong itu barang

dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran,

dan aku bertanya  di toko buku negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika singgah di sebuah rumah,

kulihat ada anak kecil bertanya tentang kupu-kupu pada mamanya,

dan mamanya tak bisa menjawab keingin-tahuan puterinya, kemudian  katanya,
“tunggu mama buka ensiklopedia dulu, yang tahu tentang kupu-kupu”,

dan aku bertanya di rumah negeri mana gerangan aku sekarang,

Agaknya inilah yang kita rindukan bersama,

di stasiun bis dan ruang tunggu kereta api negeri ini buku dibaca,

di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku dibaca,

di tempat  penjualan buku laris dibeli,

dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu

tidak berselimut debu karena memang dibaca.
(Taufiq Ismail, 1996)

Mungkin saja banyak orang yang karena situasi dan kondisi tidak bisa membaca buku, akan tetapi jangan sekali-kali untuk mengabaikan, mengingkari, apalagi sampai hati untuk meninggalkannya. Bacalah kata-kata dari Winston S. Churchill, penggemar buku dan tokoh politik dan pengarang dari Inggris yang paling dikenal sebagai Perdana Menteri Britania Raya sewaktu Perang Dunia Kedua memperingatkan kita semua, “ Apa yang harus kulakukan dengan semua bukuku? Adalah pertanyaan dan jawabannya, ‘Baca mereka.’ Tetapi jika kau tidak bisa membaca mereka, pegang mereka, atau tepatnya timang mereka. Pandangi mereka. Biarkan terbuka di manaupun mereka mau. Bacalah dari kalimat pertama yang menarik bagimu. Lalu balik ke halaman berikutnya. Lakukan petualangan, arungi laut yang belum terpetakan. Kembalikan mereka ke rak dengan tanganmu sendiri. Susun mereka dengan aturanmu sendiri, jadi jika kau tidak tahu apa isi mereka, setidaknya kan tahu di mana posisi mereka. Jika mereka tidak bisa menjadi temanmu, setidaknya jadikan mereka kenalanmu. Jika mereka tidak bisa memasuki lingkaran kehidupanmu, setidaknya jangan ingkari keberadaan mereka.”

Search by Google!

Profile Video

Announcements

Zona Integritas

IPTEKDA-LIPI XV

SURVEY IKM

Food & Health

Package Information of Food & Health

IPTEKDA-LIPI XV

IPTEKDA-LIPI XV

Bangli Heritage

Bangli Heritage: Multimedia knowledge Center

News Archive

Statistics

Share Us

BIT on Youtube

BIT Facebook Page

BIT's Group on FB