Lego Ergo Socio

  • PDFPrintE-mail

Judul di atas adalah bahasa Latin yang artinya “Saya membaca buku, maka saya tahu.” Kata-kata ini diyakini memilki landasan ideologis, ontologis, dan epistemologis yang berlaku universal. Dengan penghayatan yang mendalam tentang kata-kata tersebut maka kita akan mengerti mengapa para pakar menganggap seolah-olah membaca adalah nyawanya peradaban.


Berikut adalah parade pendapat tentang pentingnya membaca yang dikemukakan oleh para ahli yang memiliki beragam latar belakang, lintas negara, dan lintas zaman: Barbara Tuchman Wertheim (1912-1989), sejarawan dan penulis berkebangsaan Amerika yang telah memenangkan dua kali Hadiah Pulitzer, mengatakan bahwa, “buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku sejarah diam, sastra bungkam, sains lumpuh, pemikiran macet.

Buku adalah mesin perubahan, jendela dunia, mercusuar yang dipancangkan di samudera waktu.” Perkataan yang senada juga diucapkan oleh Thomas Bartholin (16161680), seorang dokter, ahli matematika dan teolog Denmark, “Tanpa buku Tuhan diam, keadilan terbenam, sains alam macet, sastra bisu, dan seluruhnya dirundung kegelapan.

Thomas Stearns Eliot (18881965), penyair masyhur Inggris berucap “Sulit membangun peradaban tanpa budaya tulis dan baca. Salah satu pilar penyangga budaya tulis dan baca adalah buku.” Paulo Friere (19211997), filusuf yang terkenal dengan pedagogi kritis dari Brasil mengatakan, “Buku ibarat lentera yang memberi cahaya kehidupan dan membebaskan manusia dari kebutuhan ilmu pengetahuan.”[1] Walter Elias Disney atau lebih dikenal sebagai Walt Disney (19011966) produser film, sutradara, animator, dan pengisi suara berkebangsaan Amerika Serikat. Ia terkenal akan pengaruhnya terhadap dunia hiburan pada abad ke-20 mengatakan, “Ada lebih banyak harta yang terkandung di dalam buku ketimbang seluruh jarahan bajak laut yang disimpan di pulau harta karun.” Tidak ada teman setia sebagaiman buku (Ernest Hemingway, 1899 -1961).


Melewatkan makan, jika memang harus, tak jadi masalah. Tapi jangan lewatkan buku (Jim Rohn, Pengusaha Amerika, 1930-2009). Ide-ide yang saya perjuangkan bukan milik saya. Saya meminjamnya dari Socrates. Saya mengutipnya dari Chesterfield. Saya mencurinya dari Yesus. Dan saya menempatkan ide-ide itu dalam sebuah buku. Jika Anda tidak menyukai aturan mereka, lalu ide siapa yang akan Anda pakai ?’” (Dale Carnegie, Guru Motivasi, 1888-1955).

Muhammad Adnan Salim mengatakan, “Bangsa yang tidak mau membaca tidak bisa mengenali dirinya sendiri dan tidak mengetahui orang lain. Bacaan akan berkata: di sinilah orang-orang terdahulu berhenti. Di sinilah dunia bergerak saat ini. Jangan mengulangi kesalahan yang pernah mereka lakukan”.[2] Peradaban, kata El-Fadl, tidak dibangun di atas kenyamanan dalam kelambanan dan kebodohan. Peradaban selamanya dibangun di atas penderitaan para syuhada perbukuan”.[3] … bersambung ke Part II.

1Terkenal di Indonesia melalui bukunya Pendidikan Kaum Tertindas (Jakarta: LP3ES, 1983)

2 Dikutip dari Erwan Juhara, “Buku dan Peradaban”, Republika, 23 Mei 2012

3 Dikutip daari Hajriyanto Y. Thohari, Buku dan Masa Depan Perdaban Kita, Seputar Indonesia, 5 Februari 2008.

Search by Google!

Profile Video

Announcements

Zona Integritas

IPTEKDA-LIPI XV

SURVEY IKM

Food & Health

Package Information of Food & Health

IPTEKDA-LIPI XV

IPTEKDA-LIPI XV

Bangli Heritage

Bangli Heritage: Multimedia knowledge Center

News Archive

Statistics

Share Us

BIT on Youtube

BIT Facebook Page

BIT's Group on FB